Just landed in San Francisco


January 2012

I’m back in Frisco again. Sweet, sweet San Francisco.

Me and my room mate were just talking over how it sucked to feel this way about San Francisco. My room mate’s originally from Hawaii, a Korean-born Hawaiian. I’m a Chinese-born Indonesian. Every time, every day, at any given moment, we would feel like, “What the hell are we doing here?” We can just f*** everything – the lease, the job, the work, and everything else here, and just fly home to our homelands. That’s how homesick we feel. But heck, a sign of growing up is to do what you got to do until you make it, whether you like it or not. So, we played video games for a while until I took a shower and blogging right now, in the middle of the night, at 2am, while in Indonesia it’s 5pm. (Why does it always have to be 2am?)

I don’t plan to change the current time in San Francisco on my watch. I’ll just keep this time because I know that in about 210 days, that’s the right time I should set my watch into. That’s the right time I’m keeping myself looking forward to.

In other news… Friends of mine are getting married this September! I have all the more reason to finish my studies by that time. Another couple who I know just got married are going to have their honeymoon here in the United States. Their first destination is going to be San Francisco (rolled my eyes), but I guess it’s a romantic place anyway. So we’re going to meet up next month.

In another news… It’s 66 days until my beloved’s coming over and we can escape from reality together for about 10 days. Yay! Reality still sucks, but we’re on our way to making it okay. Reality is good, provided if we make it good. Reality is good when I grow up to become a more mature person.

Since now I’m in SF, I can start my new running schedule. This one, remember?

I’ll stop blogging now and list all the things I’ve got to buy tomorrow to revamp my room, restock my fridge, and other miscellaneous stuff you don’t want to know. Plus, I’m going to watch the new Underworld movie tomorrow, plus, school will start tomorrow at midnight.

I’ll run this semester (and the next) like a cheetah. Watch me grow! Because I know the sun shines its light everyday for me :)




This entry was posted in BLOG.

Transiting in Hong Kong




This message is for you. You know who you are.


Someone told me that the sun will rise every morning to shine for me.

I’m here to tell you that it will do the same for you.


I miss you! ♥




Buh-bye Jakarta… I’ll be back in no time.





This entry was posted in BLOG.

12 kata “jangan” yg perlu dihindari


January 2012

My mother gives me words of advice not only orally, but through BBM too. This one is recent, and I’d like to share the wisdom with you:


Steps of Power Thinking


1. JANGAN menunggu bahagia baru tersenyum, tapi tersenyumlah, maka kamu kian bahagia.
2. JANGAN menunggu kaya baru bersedekah, tapi bersedekahlah, maka kamu semakin kaya.
3. JANGAN menunggu termotivasi baru bergerak, tapi bergeraklah, maka kamu akan termotivasi.
4. JANGAN menunggu dipedulikan orang baru kamu peduli, tapi pedulilah dengan orang lain! Maka kamu akan dipedulikan…
5. JANGAN menunggu orang memahami kamu baru kamu memahami dia, tapi pahamilah orang itu, maka orang itu paham dengan kamu.
6. JANGAN menunggu terinspirasi baru menulis, tapi menulislah, maka inspirasi akan hadir dalam tulisanmu.
7. JANGAN menunggu proyek baru berkerja, tapi berkerjalah,  maka proyek akan menunggumu.
8. JANGAN menunggu dicintai baru mencintai, tapi belajarlah mencintai, maka kamu akan dicintai.
9. JANGAN menunggu banyak uang baru hidup tenang, tapi hiduplah dengan tenang. Percayalah… bukan sekadar uang yang datang tapi juga rejeki yang lainnya.
10. JANGAN menunggu contoh baru bergerak mengikuti, tapi bergeraklah, maka kamu akan menjadi contoh yg diikuti.
11. JANGAN menunggu sukses baru bersyukur, tapi bersyukurlah, maka bertambah kesuksesanmu.
12. JANGAN menunggu bisa baru melakukan, tapi lakukanlah! Kamu pasti bisa!






Never say never in life, because you’ll never know what can and what will happen. Cheers!







Climbing the stairs


January 2012





Sepasang pengantin muda baru saja memutuskan membeli sebuah apartemen baru. Apartemen baru ini terletak di lantai 72.

Setelah mereka memberikan pembayaran tanda jadi untuk apartemen tersebut, kunci apartemen pun diserahkan kepada mereka.

Mereksa sangat bersemangat. Sesudah mendapatkan kuncinya, mereka ingin pergi ke lantai 72 untuk melihat apartemen baru mereka. yang membuat mereka lebi bersemangat lagi, kondominium itu hanya terletak di sebelah kantor pemasaran tempat mereka membayar tanda jadi.

Mereka pun cepat-cepat menuju kondominium itu dan mencari lift untuk naik ke lantai 72, tempat unit apartemen mereka.

Mereka sangat kecewa saat tahu bawa sistem lift sedang diperbaiki. Tetapi karena sangat antusias untuk melihat apartemen baru, mereka tidak keberatan naik lewat tangga menuju lantai 72. Jadi, mereka pun mulai naik.

Setelah mencapai lantai 21, pasangan ini mulai merasa lelah. Karena mengetahui bahwa perjalanan mereka masih jauh, mereka memutuskan untuk meninggalkan tas mereka di lantai 21 dan melanjutkan naik tangga lagi.

Selanjutnya, mereka naik sampai lantai 45. rasa lelah sudah sangat mereka rasakan saat itu. Mereka mulai saling menyalahkan karena memutuskan naik lewat tangga.

Mereka bahkan mulai menyalahkan satu sama lain karena memutuskan untuk membeli apartemen di lantai yang tertinggi. Tetapi karena sudah terlanjur naik ke lantai 45, dan tinggal 27 lantai lagi, mereka memutuskan untuk terus naik.

Ketika mereka sampai di lantai 60, mereka sudah tidak saling bicara. Mereka berpikir ide naik tangga sampai lantai 72 ini adalah ide konyol. Mereka memutuskan untuk diam saja dan tidak berbicara mengenai hal itu lagi.

Akhirnya mereka mencapai tujuan akhir mereka, lantai 72. Mereka sampai didepan pintu dan mereka masih bisa tersenyum lemah ketika saling berpadangan. Sejenak mereka saling menunggu untuk mengambil kunci dan membuka pintu apartemen mereka, sampai akhirnya mereka menyadarai bahwa mereka telah meninggalkan kuncinya di lantai 21 bersama tas mereka.


Kita semua memiliki impian ketika kita masih kecil. Tetapi ketika kita mencapai usia 21 tahun, umumnya kita mengkuti orang kebanyakan. Kita melepaskan impian kita dan menerima pekerjaan apa pun yang ditawarkan pada kita. Kita lupa akan impian kita.

Ketika mencapai usia 45 tahun, kita mulai merasa kecewa dengan kondisi hidup kita dan mulai menyalahkan semua orang, kecuali diri kita sendiri.

Ketika mencapai usia 60 tahun, kita mungkin tidak bisa berkata banyak lagi. Saat mencapai usia 72 tahun, ketika menyadari bahwa waktu telah tiba untuk berkata selamat tinggal. Kita mulai berpikir; Apa yang mungkin terjadi jika saya tidak melepaskan impian saya ketika saya masih berusia 21? Apakah kisah hidup saya akan berbeda?

*Dikutip dari buku Merry Riana “A Gift From A Friend”*
From M.D.E.G.A.









Cool rooms with own pool


From Home-Designing.